Rabu, 26 Maret 2014

keteledoran part kesekian kali

puncak perasaan, nggak tau harus gimana dan ke siapa ini diungkapkan.
kejadian seminggu lalu. walaupun sudah berulang kali dibilang "nggak apa-apa" dan "yaudah, sebagai pembelajaran aja, besok jangan diulangi lagi" tapi entah mengapa selalu selalu dan selalu saja pikiran itu membayangi pikiran saya.
jadi begini cerita singkatnya. si doi wisuda minggu kemarin, saya yang punya hubungan dengannya diminta tolong untuk menemani adik si doi selama acara wisuda berlangsung karena si adik tidak bisa masuk, hanya kedua orang tua nya yang bisa masuk karena menggunakan undangan khusus yang berlaku untuk dua orang.
saya otomatis nggak mau kesempatan itu gagal. rencana udah di-setting sedemikian rupa. tampil maksimal udah dalam angan-angan. selesai kuliah jam 9 langsung cus ke kosan salah satu teman untuk dandan segala macem. berhubung dia belum di tempat, jadilah saya nyicil apa yang bisa saya kerjakan. sambil haha-hihi cerita, mungkin karena keasyikan ngobrol dan nggak sadar waktu, jam 10 lewat baru touch-up muka. padahal target saya jam 10.30 saya udah harus di tempat sana. molor ternyata sampe hampir jam 11 saya baru sampai di tempat. sepatu yang ternyata kurang nyaman dipakai, ditambah insiden tali tas putus pas mau berangkat. selama touch-up udah dihubungin bolak balik, "kamu ada dimana?" dan itu bikin saya nggak konsen, makin nggak sabaran buat cepet sampai ditempat. ARRRGGGHHH this situation makes me crazy!! panik, jelas!
dan begitu udah sampai di tempat, bener aja. wisudawan udah keluar dan saya cuma bisa speechless. gagal saya, gagal udah nemenin adik si doi. calling sana sini akhirnya ketemu doi dengan toga nya, ditemenin adiknya. begitu saya tanya "Bapak Ibu mana?", doi cuma bilang "udah di mobil" AAAAHHHHHH hancur sudah perasaan saya. nemenin doi foto sana-sini, ikutan haha-hihi dan balik ke mobilnya doi.
disitu jujur perasaan saya udah nggak karuan, antara malu, sedih, takut, begitulah. cuma bisa berucap kata maaf untuk kedua orang tua dan adiknya..

GAGAL TOTAL. MISSION FAILED.
setelah si Bapak Ibu adik pulang kembali ke kota asal hari itu juga, langsung lah saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. nggak kuasa akhirnya pecah juga, sesenggukan di depan doi-yang harusnya tidak saya lakukan di depannya karena itu hari bahagianya-. cuma bisa ngomong "maaf" dan yah mengakui kesalahan, keteledoran dan kebodohan saya hari itu. tapi ia hanya tersenyum dan berusaha menenangkan keadaan saya.
oke, saya tenang dan berusaha untuk tidak melakukan hal itu lagi. lumayan bisa mengobati 'luka hati' selama beberapa hari kemudian.

sempat ditawari *yang katanya hanya bercandaan* untuk ikut ke rumah doi saat doi pulang pas nyoblos nanti. jujur perasaan nggak enak masih ada, mau ditaroh dimana ini muka? takut iya, tapi saya mau. saya pikir bisa MENEBUS KESALAHAN dan keteledoran saya kemarin dengan salah satu cara ini..
tapi... ternyata doi belum bisa mewujudkan itu, dengan beberapa alasan yang menurut saya logis memang. dan... yah begini, merasa bersalah lagi, malu.. bagaimana cara saya untuk menebus kesalahan saya pada mereka?

saya egois? yah, it's up to you. saya nggak bisa membohongu diri saya sendiri. sebelum saya menemukan cara untuk meng-cover kesalahan saya kemarin, saya belum bisa memaafkan kebodohan dan keteledoran saya. mau berapa kali pun dibilang "udah nggak usah disesali, dijadikan pelajaran aja supaya lebi baik", tapi saya belum bisa sampai sekarang.. jujur kadang nyesek liat orang lain, foto berdua dengan doi-nya pas wisudaan. iri? iya bisa dibilang begitu, 'cause I MISSED THAT MOMENT. ya, momen sekali seumur hidup..

maaf jika saya terlalu berlarut-larut, saya memang belum bisa melupakan hal itu dan otomatis belum bisa memaafkan diri saya.. karena bagi saya, pertemuan pertama akan menentukan bagaimana kita dipandang nantinya. saya ingin dihargai, maka harusnya saya lah yang menghargai mereka terlebih dahulu. tapi?? aaaaahhhh begitulah pada akhirnya..
dan ternyata kesempatan untuk meng-cover kesalahan itu belum ada..

tapi, terimakasih Tuhan atas segala yang telah Kau berikan. nikmat yang masih Kau berikan ketika aku bisa hadir saat wisudanya, walaupun dengan perasaan yang belum lega hingga sekarang. terimakasih sudah memperkenalkan aku pada mereka, yang menyapaku dengan tangan terbuka. dan... terimakasih atas pelajaran yang telah Kau berikan untuk LEBIH MENGHARGAI WAKTU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar