puncak perasaan, nggak tau harus gimana dan ke siapa ini diungkapkan.
kejadian seminggu lalu. walaupun sudah berulang kali dibilang "nggak apa-apa" dan "yaudah, sebagai pembelajaran aja, besok jangan diulangi lagi" tapi entah mengapa selalu selalu dan selalu saja pikiran itu membayangi pikiran saya.
jadi begini cerita singkatnya. si doi wisuda minggu kemarin, saya yang punya hubungan dengannya diminta tolong untuk menemani adik si doi selama acara wisuda berlangsung karena si adik tidak bisa masuk, hanya kedua orang tua nya yang bisa masuk karena menggunakan undangan khusus yang berlaku untuk dua orang.
saya otomatis nggak mau kesempatan itu gagal. rencana udah di-setting sedemikian rupa. tampil maksimal udah dalam angan-angan. selesai kuliah jam 9 langsung cus ke kosan salah satu teman untuk dandan segala macem. berhubung dia belum di tempat, jadilah saya nyicil apa yang bisa saya kerjakan. sambil haha-hihi cerita, mungkin karena keasyikan ngobrol dan nggak sadar waktu, jam 10 lewat baru touch-up muka. padahal target saya jam 10.30 saya udah harus di tempat sana. molor ternyata sampe hampir jam 11 saya baru sampai di tempat. sepatu yang ternyata kurang nyaman dipakai, ditambah insiden tali tas putus pas mau berangkat. selama touch-up udah dihubungin bolak balik, "kamu ada dimana?" dan itu bikin saya nggak konsen, makin nggak sabaran buat cepet sampai ditempat. ARRRGGGHHH this situation makes me crazy!! panik, jelas!
dan begitu udah sampai di tempat, bener aja. wisudawan udah keluar dan saya cuma bisa speechless. gagal saya, gagal udah nemenin adik si doi. calling sana sini akhirnya ketemu doi dengan toga nya, ditemenin adiknya. begitu saya tanya "Bapak Ibu mana?", doi cuma bilang "udah di mobil" AAAAHHHHHH hancur sudah perasaan saya. nemenin doi foto sana-sini, ikutan haha-hihi dan balik ke mobilnya doi.
disitu jujur perasaan saya udah nggak karuan, antara malu, sedih, takut, begitulah. cuma bisa berucap kata maaf untuk kedua orang tua dan adiknya..
GAGAL TOTAL. MISSION FAILED.
setelah si Bapak Ibu adik pulang kembali ke kota asal hari itu juga, langsung lah saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. nggak kuasa akhirnya pecah juga, sesenggukan di depan doi-yang harusnya tidak saya lakukan di depannya karena itu hari bahagianya-. cuma bisa ngomong "maaf" dan yah mengakui kesalahan, keteledoran dan kebodohan saya hari itu. tapi ia hanya tersenyum dan berusaha menenangkan keadaan saya.
oke, saya tenang dan berusaha untuk tidak melakukan hal itu lagi. lumayan bisa mengobati 'luka hati' selama beberapa hari kemudian.
sempat ditawari *yang katanya hanya bercandaan* untuk ikut ke rumah doi saat doi pulang pas nyoblos nanti. jujur perasaan nggak enak masih ada, mau ditaroh dimana ini muka? takut iya, tapi saya mau. saya pikir bisa MENEBUS KESALAHAN dan keteledoran saya kemarin dengan salah satu cara ini..
tapi... ternyata doi belum bisa mewujudkan itu, dengan beberapa alasan yang menurut saya logis memang. dan... yah begini, merasa bersalah lagi, malu.. bagaimana cara saya untuk menebus kesalahan saya pada mereka?
saya egois? yah, it's up to you. saya nggak bisa membohongu diri saya sendiri. sebelum saya menemukan cara untuk meng-cover kesalahan saya kemarin, saya belum bisa memaafkan kebodohan dan keteledoran saya. mau berapa kali pun dibilang "udah nggak usah disesali, dijadikan pelajaran aja supaya lebi baik", tapi saya belum bisa sampai sekarang.. jujur kadang nyesek liat orang lain, foto berdua dengan doi-nya pas wisudaan. iri? iya bisa dibilang begitu, 'cause I MISSED THAT MOMENT. ya, momen sekali seumur hidup..
maaf jika saya terlalu berlarut-larut, saya memang belum bisa melupakan hal itu dan otomatis belum bisa memaafkan diri saya.. karena bagi saya, pertemuan pertama akan menentukan bagaimana kita dipandang nantinya. saya ingin dihargai, maka harusnya saya lah yang menghargai mereka terlebih dahulu. tapi?? aaaaahhhh begitulah pada akhirnya..
dan ternyata kesempatan untuk meng-cover kesalahan itu belum ada..
tapi, terimakasih Tuhan atas segala yang telah Kau berikan. nikmat yang masih Kau berikan ketika aku bisa hadir saat wisudanya, walaupun dengan perasaan yang belum lega hingga sekarang. terimakasih sudah memperkenalkan aku pada mereka, yang menyapaku dengan tangan terbuka. dan... terimakasih atas pelajaran yang telah Kau berikan untuk LEBIH MENGHARGAI WAKTU
Rabu, 26 Maret 2014
Selasa, 11 Maret 2014
mendukungmu: kemarin, sekarang, esok
selamat ya, Albertus Denis Prasetya yang udah resmi dapet gelar S.E. tapi belum mindah tali toga :)
mau cerita apa? ini sebenernya cuma sekedar buang sampah karena tong sampahnya udah penuh.
skripsi. memang itu yang harus dihadapi seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjananya. dimulai di awal 2013, saat kau mulai sibuk kesana sini untuk penelitianmu, masih mendampingi dosen mu yang sangat sayang padamu, juga masih mendampingi aku dan teman-temanku di kepengurusan. aku senang melihatmu bekerja keras untuk masa depanmu. kadang aku yang suka kecewa karena dirimu terlalu sibuk.
memasuki pertengahan tahun, dirimu masih saja sibuk, ganti judul skripsi, proposal pun belum tersentuh. masih sibuk dengan dosen yang sangat sayang padamu. aku pikir dirimu bisa mengejar untuk mendapatkan gelar sarjanamu pada september 2013. ternyata, Tuhan belum mengijinkan, hingga di penghujung tahun 2013 pun belum. pertengahan hingga akhir tahun 2013 menjadi masa sibukmu dengan penelitianmu, ketemu dosen, sedikit menghiraukan dosenmu yang seperti nya selalu ingin ada kamu di sisimu. hingga kamu menerapkan peraturan untukku, hanya bertemu di waktu tertentu. berat rasanya bagiku saat itu. air mata yang keluar jadi hal yang biasa. tapi, aku egois bila hanya ingin bertemu dirimu selalu, maka aku redam rasa egois ini demi masa depanmu.
semangatmu selalu kamu tularkan ke aku untuk menjalani kejenuhan kehidupan kampus: akademis, organisasi dan sebagainya. rasa ingin pulang pun sudah tak terbendung lagi. tapi Tuhan tak mengijinkan hingga akhirnya hari Natal tiba. sungguh indah rasanya setelah penantian 4 bulan :)
kamu pun masih tetap berada di kota perantauan, membereskan penelitianmu dan skripsimu.
januari 2014. uas menjelang dan kamu masih sibuk mengurus skripsi mu dan bersiap untuk seminar. tak banyak waktu bertemu karena aku pun sedang ujian. hingga tibalah saatnya aku untuk kembali ke kota asalku sesudah uas untuk menjalankan kewajiban akademisku. dan kamu akhirnya melaksanakan seminar tanpa adanya aku di ruangan itu. berat rasanya, sangat berat tidak bisa mendampingimu di saat pentingmu. ingin rasanya aku kembali ke perantauan untuk melihat dirimu memaparkan hasil penelitianmu. tapi dengan kebesaran hatimu, kamu menyemangati ku untuk menjalani masa magangku dan memaklumi alasan aku tak bisa hadir disampingmu saat kamu seminar.
semakin sibuk dirimu dengan ujian skripsi dan pendadaran yang harus kamu lalui. hanya bisa menghubungi lewat telepon, beberapa menit saja. saling menyemangati, bercanda, tertawa. hingga tiba saatnya kamu harus melewati ujian penentuan kelulusanmu, pendadaran. dan siang hari itu aku mendapatkan kabar darimu bahwa kamu lulus. turut bahagia dengan keberhasilanmu.. tapi sayangnya aku masih belum bisa menemanimu disaat itu, maafkan aku..
hari yudisium pun tiba dan aku harus kembali ke perantauanmu. bertemu denganmu yg telah berpisah selama sebulan, melihatmu memakai kemeja putih dan celana hitam, kembali dengan kejailanmu saat aku berjalan di pelataran stasiun saat itu.
hingga akhirnya kamu pun berkata bahwa kamu berencana akan kembali ke kota asalmu, ke rumahmu setelah acara memakai toga berlangsung. sedih, iya sedih. kamu pun tau bagaimana aku berat melepasmu, tak mampu berkata ketika mata ini berkaca-kaca. tapi, kembali aku belajar bahwa aku tak boleh egois. kamu pun kembali untuk menimba ilmu lebih banyak yg belum kamu dapatkan disini.
dan kamu pun berusaha untuk menjalani masa pantang dan puasa ini bersama, sebelum kamu kembali ke kota asalmu. terimakasih sudah meluangkan waktumu untukku menikmati waktu terakhir bersamamu..
terimakasih atas segala dukungan dan semangatmu, mulai dari awal kamu dan aku berkenalan, hingga melihatmu memakai togamu..
seperti apa yang kamu katakan, bahwa aku tak boleh terlalu tergantung padamu, aku juga harus memperhatikan dan menyadari lingkungan sekitarku diluar dirimu. dan hal itu sedang aku usahakan, maaf tidak bisa menyediakan banyak waktu untukmu saat ini, mungkin keadaan yg sedang berbalik saat ini.
aku tak mau menjadi beban pikiran mereka, aku tak mau mereka berdebat hanya karena diriku yang mungkin tak pernah menyadari kehadiran mereka. malu sebenarnya diriku pada mereka yang sebenarnya punya waktu untukku hanya aku yg belum peduli pada keberadaan mereka
maaf atas kesalahanku. mungkin salah apa yang aku rasakan ini. aku yang tidak pernah mengerti arti seorang sahabat, aku yang egois dan selalu asik dengan duniaku dan doi. aku tidak ingin ada perdebatan atas perbedaan sudut pandang lagi. tapi, perlu aku sampaikan bahwa aku tidak merasa dikendalikan, ia hanya memberikan saran yg menurutku baik dan aku ikuti itu. maaf, tapi ini yg aku rasakan..
aku juga tak ingin waktuku untuk kalian hanya menjadi keterpaksaan belaka seperti yg kalian lihat, aku juga ingin luwes jika berada bersama kalian. biarlah aku belajar kembali. semangat yang aku dapatkan juga ingin aku bagikan pada kalian yang sudah mendukungku, memberi aku pelajaran..
aku memang belum membuka diri seutuhnya, karena memang inilah diriku. kadang aku merasa diriku 'garing', 'krik-krik' atau sok pintar saat membahas sesuatu. kadang masih merasa kikuk apabila berada diantara kalian. aku belum bisa se-ceriwis kalian, entah karena apa..
tapi yg jelas aku menyadari bahwa kalian ternyata memperhatikanku, aku juga ingin berada ditengah kalian, tertawa ria, bercanda bersama..
maaf jika apa yang aku tulis ini berlebihan atau membuat perasaan kalian tidak nyaman tiba2. tapi aku hanya berusaha terbuka, jujur dan semoga dapat membawa ke perubahan yg lebih baik.
terimakasih mas denis.. terimakasih kawanku.. :')
mau cerita apa? ini sebenernya cuma sekedar buang sampah karena tong sampahnya udah penuh.
skripsi. memang itu yang harus dihadapi seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjananya. dimulai di awal 2013, saat kau mulai sibuk kesana sini untuk penelitianmu, masih mendampingi dosen mu yang sangat sayang padamu, juga masih mendampingi aku dan teman-temanku di kepengurusan. aku senang melihatmu bekerja keras untuk masa depanmu. kadang aku yang suka kecewa karena dirimu terlalu sibuk.
memasuki pertengahan tahun, dirimu masih saja sibuk, ganti judul skripsi, proposal pun belum tersentuh. masih sibuk dengan dosen yang sangat sayang padamu. aku pikir dirimu bisa mengejar untuk mendapatkan gelar sarjanamu pada september 2013. ternyata, Tuhan belum mengijinkan, hingga di penghujung tahun 2013 pun belum. pertengahan hingga akhir tahun 2013 menjadi masa sibukmu dengan penelitianmu, ketemu dosen, sedikit menghiraukan dosenmu yang seperti nya selalu ingin ada kamu di sisimu. hingga kamu menerapkan peraturan untukku, hanya bertemu di waktu tertentu. berat rasanya bagiku saat itu. air mata yang keluar jadi hal yang biasa. tapi, aku egois bila hanya ingin bertemu dirimu selalu, maka aku redam rasa egois ini demi masa depanmu.
semangatmu selalu kamu tularkan ke aku untuk menjalani kejenuhan kehidupan kampus: akademis, organisasi dan sebagainya. rasa ingin pulang pun sudah tak terbendung lagi. tapi Tuhan tak mengijinkan hingga akhirnya hari Natal tiba. sungguh indah rasanya setelah penantian 4 bulan :)
kamu pun masih tetap berada di kota perantauan, membereskan penelitianmu dan skripsimu.
januari 2014. uas menjelang dan kamu masih sibuk mengurus skripsi mu dan bersiap untuk seminar. tak banyak waktu bertemu karena aku pun sedang ujian. hingga tibalah saatnya aku untuk kembali ke kota asalku sesudah uas untuk menjalankan kewajiban akademisku. dan kamu akhirnya melaksanakan seminar tanpa adanya aku di ruangan itu. berat rasanya, sangat berat tidak bisa mendampingimu di saat pentingmu. ingin rasanya aku kembali ke perantauan untuk melihat dirimu memaparkan hasil penelitianmu. tapi dengan kebesaran hatimu, kamu menyemangati ku untuk menjalani masa magangku dan memaklumi alasan aku tak bisa hadir disampingmu saat kamu seminar.
semakin sibuk dirimu dengan ujian skripsi dan pendadaran yang harus kamu lalui. hanya bisa menghubungi lewat telepon, beberapa menit saja. saling menyemangati, bercanda, tertawa. hingga tiba saatnya kamu harus melewati ujian penentuan kelulusanmu, pendadaran. dan siang hari itu aku mendapatkan kabar darimu bahwa kamu lulus. turut bahagia dengan keberhasilanmu.. tapi sayangnya aku masih belum bisa menemanimu disaat itu, maafkan aku..
hari yudisium pun tiba dan aku harus kembali ke perantauanmu. bertemu denganmu yg telah berpisah selama sebulan, melihatmu memakai kemeja putih dan celana hitam, kembali dengan kejailanmu saat aku berjalan di pelataran stasiun saat itu.
hingga akhirnya kamu pun berkata bahwa kamu berencana akan kembali ke kota asalmu, ke rumahmu setelah acara memakai toga berlangsung. sedih, iya sedih. kamu pun tau bagaimana aku berat melepasmu, tak mampu berkata ketika mata ini berkaca-kaca. tapi, kembali aku belajar bahwa aku tak boleh egois. kamu pun kembali untuk menimba ilmu lebih banyak yg belum kamu dapatkan disini.
dan kamu pun berusaha untuk menjalani masa pantang dan puasa ini bersama, sebelum kamu kembali ke kota asalmu. terimakasih sudah meluangkan waktumu untukku menikmati waktu terakhir bersamamu..
terimakasih atas segala dukungan dan semangatmu, mulai dari awal kamu dan aku berkenalan, hingga melihatmu memakai togamu..
seperti apa yang kamu katakan, bahwa aku tak boleh terlalu tergantung padamu, aku juga harus memperhatikan dan menyadari lingkungan sekitarku diluar dirimu. dan hal itu sedang aku usahakan, maaf tidak bisa menyediakan banyak waktu untukmu saat ini, mungkin keadaan yg sedang berbalik saat ini.
aku tak mau menjadi beban pikiran mereka, aku tak mau mereka berdebat hanya karena diriku yang mungkin tak pernah menyadari kehadiran mereka. malu sebenarnya diriku pada mereka yang sebenarnya punya waktu untukku hanya aku yg belum peduli pada keberadaan mereka
maaf atas kesalahanku. mungkin salah apa yang aku rasakan ini. aku yang tidak pernah mengerti arti seorang sahabat, aku yang egois dan selalu asik dengan duniaku dan doi. aku tidak ingin ada perdebatan atas perbedaan sudut pandang lagi. tapi, perlu aku sampaikan bahwa aku tidak merasa dikendalikan, ia hanya memberikan saran yg menurutku baik dan aku ikuti itu. maaf, tapi ini yg aku rasakan..
aku juga tak ingin waktuku untuk kalian hanya menjadi keterpaksaan belaka seperti yg kalian lihat, aku juga ingin luwes jika berada bersama kalian. biarlah aku belajar kembali. semangat yang aku dapatkan juga ingin aku bagikan pada kalian yang sudah mendukungku, memberi aku pelajaran..
aku memang belum membuka diri seutuhnya, karena memang inilah diriku. kadang aku merasa diriku 'garing', 'krik-krik' atau sok pintar saat membahas sesuatu. kadang masih merasa kikuk apabila berada diantara kalian. aku belum bisa se-ceriwis kalian, entah karena apa..
tapi yg jelas aku menyadari bahwa kalian ternyata memperhatikanku, aku juga ingin berada ditengah kalian, tertawa ria, bercanda bersama..
maaf jika apa yang aku tulis ini berlebihan atau membuat perasaan kalian tidak nyaman tiba2. tapi aku hanya berusaha terbuka, jujur dan semoga dapat membawa ke perubahan yg lebih baik.
terimakasih mas denis.. terimakasih kawanku.. :')
Langganan:
Komentar (Atom)