Penulis : Kudang B. Seminar
Sumber : http://kseminar.staff.ipb.ac.id/files/2011/11/PardigmaUtilisasiTI-UtkPertanian.pdf
Review
Industri pertanian makin hari semakin berkembang pesat dan berdaya saing global. Berbagai kebijakan yang diterapkan oleh negara-negara maju semakin membuka persaingan antar negara. Indonesia, sebagai negara yang melimpah hasil pertaniannya pun turut dalam persaingan tersebut. Sebagai salah satu negara yang baik kondisi pertaniannya, Indonesia harus mensyukuri dan mempertahankan kekayaan alam yang telah dilimpahkan-Nya. Maka dari itu, untuk membangun perekonomian Indonesia haruslah terlebih dahulu dibangun sektor pertaniannya, karena sebagian besar masyarakat Indonesia tinggal di daerah pedesaan, dimana masyarakat menggantungkan hidupnya pada pertanian tersebut.
Untuk meningkatkan kemampuan ekonomi dan kemajuan negara, maka Indonesia tergabung dalam komitmen global dalam hal perdagangan, ekonomi, transaksi keuangan dan lain-lain (misalnya dalam WTO, ASEAN, APEC, OPEC, AFTA). Perubahan tersebut diharapkan dapat menambah daya saing Indonesia di mata internasional. Hal ini menunut adanya transformasi bisnis pertanian yang lebih berdayaguna dan kompetitif dalam persaingan global.
Teknologi informasi (TI) adalah tulang punggung dalam mewujudkan internetworking dan globalisasi bisnis dan industri yang memungkinkan pertukaran informasi yang cepat dan akurat dan ekspansi sakala bisnis dengan koordinasi dan kolaborasi yang lebih baik. TI merupakan perwujudan Sistem Informasi (SI) yang terus dikembangkan.
Internetworking adalah suatu bentuk hubungan, kerjasama atau kemitraan yang bersinergi mendayagunakan TI (teknologi informasi) berbasis jaringan (internet, intranet, ekstranet). Sebagai contoh, petani yang membuka situs web untuk mencari sarana produksi untuk usahanya, misalkan gandum. Maka petani tersebut akan terhubung ke jejaring penjual sarana produksi yang tersebar di berbagai wilayah.
Industri pertanian dalam kancah globalisasi perlu melakukan upaya re-engineering bisnis process (business process re-engineering/BPR) dengan pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) yang rasional sehingga dapat berkompetisi dengan kekuatan maksimal. Hasil dari re-engineering adalah suatu pembaharuan proses binis yang mendayagunakan TI secara rasional yang memungkinkan usaha (bisnis) pertanian untuk berkembang tidak saja secara kuantitatif (physical) namun juga secara kualitatif (values).
Produk-produk pertanian yang dihasilkan oleh industri pertanian Indonesia yang tidak memenuhi standar kualitas internasional (global) sulit untuk masuk atau diterima di pasar global. Ketepatan dan kecepatan waktu produksi dan distribusi produk pertanian juga menjadi tuntunan pasar pertanian global. Standarisasi mutu yang sangat dibutuhkan hanya dideskripksikan dalam bentuk tulisan pernyataan seperti ukuran, warna, dan kandungan air. Selain itu, mutu produk juga dikaitkan dengan masalah keamanan pangan (food security), keamanan bagi manusia, hewan dan tumbuhan serta lingkungan.
Paradigma pertanian yang memberikan perlakuan presisi mulai dari pemilihan lahan hingaa distribusi dinamakan pertanian presisi. Pemilihan lahan pertanian dilakukan dengan melihat potensi dan kesusuaian lahan untuk komoditas tertentu menggunakan tekonogi indraja dan sistem informasi geografis (geographical information sitem/GIS). Saat budidaya, perlakuan teliti atau presisi bisa dilakukan dengan mengamati perkembangan tanaman berdasarkan luas tutupan daun (canopy) menggunakan pengolahan citra (image processing). Pada kegiatan pasca panen (off-farm) pernyortiran buah dapat dilakukan dengan lebih teliti menggunakan pendekatan pertanian presisi bebasis TI dan SI. Hingga pada tahap terakhir, yaitu distribusi atau delivery produk pertanian perlu memperhatikan jalur terpendek untuk kemanan dan keamanan produk hingga sampai di konsumen akhir menggunakan SI berbasis spasial untuk secara presisi memilih jalur distribusi terbaik.




